Sejarah Batik Tulis Indonesia

20 Maret 2012 - Kategori Blog

Batik merupakan karya seni yang bernilai tinggi. Seni membatik sudah ada sejak lama. Batik merupakan salah satu seni dengan tekhnik pewarnaan dengan menggunakan perintang warna yang disebut dengan “malam”. Malam atau disebut juga dengan lilin dalam bahasa inggris di sebut dengan “wax”, adalah cairan yang berasal dari bahan – bahan tertentu yang dibuat sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk menghalangi warna agar tidak tembus atau melebar ke bagian pola/motif lainnya dalam selembar kain mori. Merintangi warna dengan menggunakan malam merupakan bentuk seni kuno.

Ini sudah ada sejak jaman dulu kala sejak abad ke – 4 Sebelum Masehi. Dengan ditemukannya kain pembungkus mayat atau yang disebut dengan mumi, dimana saat ditemukan juga dilapisi dengan malam untuk membuat sebuah pola. Sehingga, dengan penemuan ini menggambarkan bahwa tekhnik merintangi warna dengan malam merupakan bentuk seni yang sudah ada sejak jaman sebelum masehi. Tiongkok atau lebih dikenal dengan sebutan china saat ini, merupakan salah satu negara yang sejak jaman dulu menerapkan tekhnik tersebut. Sejak jaman dinasti Tang antara tahun 618 – 907. 

Selain itu, di negara India dan Jepang pun juga sudah ada yaitu saat periode Nara tahun 645 – 794. Begitu indahnya tekhnik menggunakan perintang warna malam ini, tidak hanya di negara Asia saja. Di negara Afrika pun juga sudah menggunakan tekhnik ini, pertama kali yang menerapkan adalah Suku Yoruba, sekelompok suku di Nigeria. Kemudian Suku Soninke, Suku Wolof di negara Senegal.
Di negara kita, Indonesia seni batik ini diyakini sudah muncul sejak jaman kerajaan Majapahit. Majapahit yang dengan terkenalnya patih Gajah Mada dengan sumpah palapanya. Saat itu belum ada yang namanya batik cap apalagi “batik” printing, sehingga semuanya adalah batik tulis. Batik cap mulai dikenal sekitar tahun 1920 an.
Kata batik berasal dari bahasa Jawa. Namun sejarawan Indonesia saat itu yang bernama F.A Sutjipto meyakini bahwa tradisi batik asli dari daerah seperti Toraja, Halmahera, Papua dan Flores. Hal ini juga dikuatkan dengan keyakina seorang arkeolog Belanda yaitu G.P. Rouffaer. Dia mengatakan bahwa kemungkinan tekhnik batik ini diperkenalkan dari India serta Srilanka. Sehingga, walaupun kata batik berasal dari dua kata bahasa Jawa yaitu “amba” dan “titik” namun sepertinya kehadiran batik di Jawa ini tidaklah tercatat. Wilayah Toraja, Halmahera, Papua dan Flores bukanlah area yang saat itu dipengaruhi oleh Hinduisme akan tetapi mempunyai tradisi kuno dalam membuat batik.

Saat ini, batik merupakan pakaian yang digemari banyak orang. Dan dunia mengakui bahwa batik merupakan budaya asli Indonesia. Motif – motif batik banyak mengalami perkembangan yang pesat, mulai motif tradisional lama sampai pada motif modern seperti abstrak kontemporer. Ini semua dipengaruhi oleh semakin berkembangnya tekhnologi serta kemajuan jaman. Pola atau motif merupakan suatu gambar yang memiliki makna filosofi sebagai cerminan pembuatnya dalam menyampaikan maksud dan tujuannya. Pola “gringsing” menurut G.P. Rouffaer sudah ada dan dikenal sejak abad ke – 12 di daerah Kediri Propinsi Jawa Timur. Kesimpulan dalam penelitiannya bahwa pola tersebut hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat yang disebut dengan canthing. 

Oleh sebab itu, menurut pendapatnya bahwa canthing ditemukan di Jawa sekitar masa itu. Pembuatan pola atau motif yang rumit dalam menorehkan lilin/malam hanya dapat dibuat dengan menggunakan canthing dikenal di Jawa sejak abad ke – 13 atau bahkan lebih awal. Pola itu ada pada arca dewi kebijaksanaan buddhis dari Jawa Timur pada abad ke – 13, arca itu dinamakan dengan Prajnaparamita.
Canthing merupakan alat untuk menorehkan lilin pada kain, agar pola atau motif bisa dibuat secara detail. Selain itu, dengan berkembangnya motif saat ini canthing bukanlah satu – satunya alat yang digunakan untuk menggambar pada kain, akan tetapi tekhnik dengan kuas pun bisa dilakukan. Melanjutkan sejarah tekhnik batik, bahwa dalam literatur melayu yaitu abad ke – 17 sebagaimana diceritakan oleh Sulalatus Salatin, saat itu Laksamana Hang diperintah oleh Sultan Mahmud berlayar ke India untuk memperoleh 140 lembar kain “serasah” dengan 40 pola gambar bunga dalam setiap lembar kain itu. Perintah itu tidak dapat dilaksanakannya, sehingga dia membuat sendiri kain – kain tersebut. Dalam perjalanan pulang kapal tenggelam, tersisa empat lembar kain sehingga sang Sultan pun kecewa. Nah, “serasah” ini ditafsirkan sebagai batik oleh beberapa penafsir saat itu.

Di belahan negara lain seperti Eropa, buku berjudul “History Of Java” ( 1817 ) yang ditulis oleh Sir Thomas Stamford Raffles menceritakan tentang tekhnik batik. Raffles pernah menjadi Gubernur Inggrish saat jaman Napoleon menduduki Belanda. Dan saat itu seorang saudagar Belanda yang bernama Van Rijekevorsel ( 1873 ) memberikan selembar batik yang dibawa dari Indonesia ke museum etnik di Rotterdam. Tahun 1900, batik Indonesia memberikan takjub bagi para pengunjung dan seniman saat dipamerkan di Exposition Universelle Paris. Saat itulah batik pada masa keemasannya. 

Saat ini batik sudah mendunia. Apalagi sudah mendapatkan pengakuan dari UNESCO bahwa batik adalah budaya asli Indonesia. Sejak tahun 2009 yang lalu, sehingga saat ini pun batik berkembang dengan pesat. Era industrialisasi dan globalisasi membawa banyak perubahan sejarah batik, jika dulu batik hanya di buat secara tulis namun sekarang pun sudah banyak jenis batik cap maupun “batik” cetak.

( Referensi : wikipedia )

sejarah batik

 
Chat via Whatsapp